Tahukah kamu bahwa seseorang yang menderita gangguan mental jarang mendapat diagnosis secara tepat selama bertahun-tahun? Yap, biasanya, setelah sekian lama, barulah mendapatkan hasil diagnosa yang benar.

Memang, masyarakat sekarang ini sudah sangat aware terhadap permasalahan kesehatan mental. Meski demikian, masih banyak pula diagnosis yang salah – atau ada juga yang tidak dapat terdiagnosis sama sekali, lho.

Dengan adanya kekeliruan tersebut, akhirnya pasien diberi tahu bahwa mereka menderita penyakit lain. hal tersebut menyebabkan banyak orang yang berjuang sendiri, ketimbang mendapat perawatan yang dibutuhkan dan layak didapatkan.

Dilansir dari IDN Times, menurut data dari WHO menunjukkan bahwa kurang dari sepatuh orang memenuhi kriteria diagnostik – atau mendapat perawatan medis yang tepat. Tapi masalahnya, jika sumber daya tidak dialokasikan dengan tepat dan kondisinya tidak ditangani, seringkali malah menimbulkan masalah yang lebih besar di waktu mendatang.

Berikut ini lima gangguan kesehatan mental yang jarang mendapat diagnosis secara tepat. Wajib diketahui!

 

 

1. Gangguan Makan

Credit Image - kompas.com

Orang yang menderita gangguan makan dengan lebih dari 90 persen tidak terdiagnosis secara medis sebagai tubuh kurus, dan kondisi ini sangat sulit diketahui. Gangguan makan juga sering diabaikan karena dianggap hanya terjadi pada wanita remaja yang kurus.

Tetapi, jutaan orang di seluruh dunia terpengaruh oleh gangguan makan, bahkan terhadap setiap orang dari segala usia, jenis kelamin, maupun etnis. Gangguan ini jarang terdiagnosis pada orang tua dan pria.

Sebuah studi di University of Michigan School of Public Health melaporkan bahwa stereotipe tentang siapa yang mengalami pengembangan gangguan makan, diagnosis dalam pengobatannya bisa berbeda-beda. Jika laki-laki yang memiliki berat badan lebih tinggi, orang kulit berwarna, dan orang yang tidak kaya kemungkinan besar akan lolos dari celah.

Hal ini sangat mengkhawatirkan, karena gangguan makan merupakan penyakit mental yang paling mematikan kedua. Setiap tahunnya, sebanyak 10.200 orang Amerika meninggal dunia karena mengalami gangguan makan.

 

2. Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar juga merupakan salah satu penyakit mental yang paling serius. Meskipun tidak ada obat untuk bipolar, namun jika perawatannya tepat waktu maka pasien akan terbantu dalam mengelola penyakit mereka dan mencegah komplikasi.

Pasien bipolar akan mengalami perubahan suasana hati atau mood dan tingkat energi yang ekstrim. Dapat melompat dari kondisi apatis dan depresi ke kondisi mania hingga hipomania. Apabila mereka terlalu bersemangat, mereka akan memiliki perilaku berbahaya dan berisiko.

Sebuah survey yang dilakukan oleh National Depressive and Manic-Depressive Association menyimpulkan bahwa 69 persen pasien bipolar terdiagnosis dengan salah. Sepertiga dari para pasien tersebut salah didiagnonis selama lebih dari 10 tahun.

Paling seringnya, gangguan bipolar dianggap sebagai depresi. Apabila dokter gagal mengajukan pertanyaan pada pasien yang depresi terkait gejala manik seperti halnya perubahan suasana hati yang tiba-tiba, maka dokter akan salah dalam mendiagnosis.

Banyak ahli kesehatan mengatakan bahwa gangguan bipolar kurang terdiagnosis, namun penelitian terbaru melaporkan bahwa situasinya mungkin lebih kompleks. Selain itu, penelitian lainnya menyimpulkan bahwa kemungkinan diagnosis gangguan bipolar dilakukan secara berlebihan. 

 

3. Gangguan Stres Pascatrauma

Credit Image - kompas.com

Post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan yang ditandai dengan kegagalan untuk pulih setelah mengalami atau melihat peristiwa yang menyakitkan atau menakutkan. Para penderitanya bisa melakukan isolasi sosial demi kewaspadaan namun berlebihan, dan kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari.

Gejala seperti ini seringkali disalahpahami seperti gangguan panik, fobia, stres hingga depresi, penyalahgunaan alkohol, serta gangguan kepribadian. Para ilmuwan belum mengetahui kenapa banyak orang mengalami PTSD sebagai respons terhadap kejadian traumatis. Tetapi penelitian telah melaporkan bahwa 20 persen dari para penderita telah mengalami semacam trauma menumbuhkan PTSD.

Seringkali para pasien tidak menyadari akan kondisinya tersebut, sampai-sampai seorang terapis bertanya pada mereka terkait kejadian traumatis di masa lalu. Diagnosis yang tidak terdeteksi biasanya ketika pasien tidak menceritakan tentang trauma masa lalunya. Bisa juga sebaliknya, seorang psikiater atau terapis tidak menanyakan kejadian trauma masa lalu dari pasien tersebut.

 

4. Gangguan Kepribadian Ambang

Menurut laman Psychology Today, gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder adalah suatu kondisi yang ditandai dengan ketidakstabilan jiwa dan impulsif. Selain itu, ditandai juga dengan pola berkelanjutan berbagai suasana hati, citra diri, dan perilaku yang menyebabkan kesulitan yang signifikan.

Dilansir National Alliance on Mental Illness, gangguan kepribadian ambang merupakan kondisi kesehatan mental yang paling sering salah saat didiagnosis. Alasannya karena gejala ini terlihat seperti gejala yang lain termasuk kecemasan, depresi, dan gangguan bipolar. Tidak hanya itu, stigma juga menjadi masalah bagi orang-orang dengan gangguan kepribadian ambang ini.

 

5. Depresi

Credit Image - halodoc.com

Menurut laman Britannica, depresi adalah gangguan suasana hati atau keadaan emosi yang ditandai dengan perasaan rendah diri, dan berkurangnya kemampuan untuk menikmati hidup. Gejalanya seperti perasaan sedih yang mendalam, putus asa, dan pesimis. Masalah kesehatan mental ini yang paling umum ditemukan.

Secara tragis, di seluruh dunia kondisi ini tidak dilaporkan dan tidak dapat terdiagnosis dengan benar. Bahkan di Amerika Serikat yang masyarakatnya cukup tinggi terhadap kesadaran kesehatan mental, hanya separuh dari penderita depresi yang berhasil terdiagnosis dan mendapat pengobatan yang tepat. Sedangkan di negara-negara berkembang, depresi justru jauh lebih parah atau lebih banyak yang tidak terdeteksi.

Masalah utama dari depresi adalah manifestasi gejalanya yang berbeda-beda dari setiap orang yang menderitanya. Kondisi tersebut bisa muncul dengan sendirinya dalam berbagai cara. Sebagian orang akan mendapat gejala kantuk dan kesedihan yang mendalam. Tetapi sebagian yang lain justru mendapat gejala sakit kepala, kemarahan, hingga penurunan kemampuan kognitif.

Selain itu, depresi seringkali dikacaukan dengan gejala demensia atau diartikan dengan salah yaitu sebagai efek samping dari nyeri kronis, kanker, atau diabetes.

 

Jika kamu sedang berjuang dengan kesehatan mental – dan hal tersebut salah terdiagnosis, maka segera hubungi psikiater atau terapis yang sudah berpengalaman agar kondisimu dapat dirawat secara tepat.

Dan, untuk kesehatan mental, sebisa mungkin tetap positif, rajin bersyukur, melakukan interaksi dengan orang lain, pelajari hal baru, dan menjaga kesehatan fisik – dengan rutin mengonsumsi multivitamin Enervon Active.

 

 

Featured Image – news.sky.com

Source – idntimes.com